Pendidikan anak usia dini merupakan fase fundamental dalam pembentukan karakter, kecerdasan, dan potensi dasar manusia. Dalam perspektif Islam, pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi sebagai internalisasi nilai-nilai tauhid, pembentukan adab, serta pengembangan potensi fitrah manusia. Bahwa pendidikan dalam Islam bersifat bertahap (tadarruj), menyeluruh, dan berorientasi pada pembentukan ketakwaan sebagai tujuan akhir kehidupan manusia.

Anak usia dini merupakan fase emas (golden age) dalam perkembangan manusia. Pada masa ini, struktur kognitif, emosional, spiritual, dan sosial anak berkembang sangat pesat. Apa yang ditanamkan pada fase ini akan membentuk arah kehidupan seseorang di masa depan. Dalam Islam, pendidikan tidak semata-mata dipahami sebagai pengajaran akademik, melainkan sebagai proses pembentukan kepribadian yang utuh mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal. Pendidikan adalah proses membimbing manusia agar mengenal Tuhannya, memahami dirinya, dan menjalankan fungsinya sebagai khalifah di bumi. Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam telah memberikan landasan konseptual mengenai pendidikan manusia sejak awal penciptaan.

Konsep Pendidikan dalam QS. Al-Baqarah Ayat 31

Firman Allah Swt dalam QS. Al-Baqarah 31

Artinya; “Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!”

Ayat ini menunjukkan bahwa proses pendidikan pertama dalam sejarah manusia dimulai langsung dari Allah Swt kepada Nabi Adam as. Para mufasir seperti M. Quraish Shihab dalam karyanya Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa “nama-nama” dalam ayat tersebut mengandung makna pemberian potensi pengetahuan kemampuan mengenali, memahami, dan mengidentifikasi fungsi serta karakteristik sesuatu.

Ada poin penting yang dapat diambil dari ayat di atas adalah sebagai berikut:

Manusia dianugerahi potensi intelektual dan bahasa

    Pendidikan pertama yang diberikan adalah pengenalan nama, bukan konsep abstrak. Ini selaras dengan metode pendidikan anak usia dini, mengenalkan benda konkret sebelum konsep kompleks dilakukan.

    • Pendidikan bersifat bertahap (Tadarruj)
      Pengajaran dimulai dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks.
    • Ilmu adalah keistimewaan manusia.
      Keunggulan nabi Adam atas makhluk lain terletak pada ilmu, bukan fisik atau usianya.

    Dengan demikian, pendidikan anak usia dini dalam perspektif Al-Qur’an adalah upaya mengembangkan potensi fitrah yang telah Allah tanamkan sejak awal penciptaan manusia.

    Tujuan Pendidikan dalam QS. Ali ‘Imran Ayat 102

    Firman Allah Swt dalam QS. Ali ‘Imran ayat 102

    Artinya; “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”

    Ayat ini menegaskan bahwa tujuan akhir pendidikan dalam Islam adalah pembentukan insan yang bertakwa. Pendidikan bukan hanya untuk kecerdasan intelektual, tetapi untuk memastikan seseorang hidup dan wafat dalam keadaan berserah diri kepada Allah Swt (husnul khatimah). Dengan demikian, pendidikan usia dini harus diarahkan pada pembentukan kesadaran tauhid, pembiasaan ibadah, penanaman akhlak mulia dan penguatan karakter yang kokoh dalam disiplin.

    Dimensi Pendidikan Anak dalam Perspektif Al-Qur’an

    Berdasarkan prinsip Al-Qur’an, pendidikan anak usia dini mencakup beberapa aspek utama:

    1. Pendidikan Keimanan (Tauhid)

      Anak perlu diperkenalkan kepada Allah SWT sebagai Pencipta dan Pengatur alam semesta. Pendidikan tauhid menjadi fondasi utama karena dari sinilah seluruh nilai kehidupan bertumpu.

      2. Pendidikan Ibadah

      • Ibadah Mahdhah, seperti salat, puasa, zakat, dan ibadah formal lainnya.
      • Ibadah Ghayr Mahdhah, yaitu segala aktivitas yang diniatkan karena Allah, termasuk belajar, membantu orang tua, dan berbuat baik kepada sesama. Pembiasaan sejak dini akan membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab spiritual anak usia dini hingga mereka dewasa.

      3. Pendidikan Birrul Walidain (Berbakti kepada Orang Tua)

      Al-Qur’an secara konsisten menempatkan penghormatan kepada orang tua setelah perintah menyembah Allah. Pendidikan tentang ihsan kepada orang tua menanamkan rasa syukur, empati, dan kesadaran akan perjuangan orang tua terutama ibu.

      Pendidikan Anak Usia Dini sebagai Fondasi Peradaban

      Pendidikan usia dini bukan sekadar tahap awal pembelajaran, tetapi fondasi peradaban. Anak yang sejak dini dibiasakan mengenal Allah, mencintai ilmu, menghormati orang tua, serta berakhlak baik, akan tumbuh menjadi pribadi yang kokoh secara spiritual, tajam secara intelektual, luhur secara moral, mandiri dalam kehidupan.

      Dari pribadi-pribadi inilah lahir masyarakat beradab. Jika pada usia dini anak hanya dijejali informasi tanpa nilai, maka ia mungkin cerdas, tetapi rapuh secara moral. Sebaliknya, jika pendidikan dibangun atas fondasi tauhid dan adab, maka kecerdasan akan menjadi cahaya yang menerangi mereka dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya sekadar alat saja.

      Kesimpulan

      Berdasarkan QS. Al-Baqarah ayat 31 dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah fitrah manusia dan diberikan secara bertahap (Tadarruj). Sedangkan dalam QS. Ali ‘Imran ayat 102 menegaskan bahwa tujuan akhir pendidikan adalah ketakwaan. Dengan demikian, pendidikan anak usia dini dalam perspektif Al-Qur’an adalah proses mengembangkan potensi intelektual, menanamkan tauhid, membiasakan ibadah, membentuk akhlak dan kemandirian. Pendidikan bukan hanya tentang mencetak anak yang pintar, tetapi membentuk manusia yang mengenal Tuhannya, memahami tanggung jawabnya, dan hidup dalam nilai-nilai kebenaran. Karena sejatinya, peradaban besar tidak lahir dari gedung-gedung megah, tetapi dari pendidikan yang dimulai sejak usia dini dari rumah, dari keluarga, dari sentuhan pertama nilai tauhid dalam jiwa seorang anak.

      Daftar Pustaka

      Quraish Shihab, M. (2000). Tafsir Al-Mishbah. Ciputat: Lentera Hati

      Drs. HA. Hafizh Dasuki, M. (1993). Al-Qur’an dan Tafsirnya. Semarang: PT. Citra Effhar

      Harun, Salman. (2013). Tafsir Tarbawi. Tangerang Selatan: UIN Jakarta Press 

      Penulis || Amir Faizal || Editor || Herman

      Leave a Reply

      Your email address will not be published. Required fields are marked *